ghiarendrias.img
Kamis, 04 Desember 2014
kenangan untukmu yang telah hilang
Mari temani aku bernyanyi kawan, aku kembali kalah hari ini..
temani aku tertawa, menertawakan masa lalu dan masa depan yang entah begitu suram tanpa ada satu kisi indah pada frame demi frame yang terlintas dalam imajinasiku, dan untuk setiap kenangan yang masih hangat meskipun telah jauh ku tinggalkan dalam langkahku memutar bumi, menapak anak demi anak tangga menuju suatu hari dimana aku akan bercerita pada seseorang tentang apa yang pernah aku alami dan menggapai penghujung hari dimana tubuh ini akan menyatu dengan tanah.
Kemarin aku masih tertunduk mengangguk pada egoku, kemarin masih aku merasa akulah sang penakluk, kemarin pula aku merasa bahwa aku pencundang terhebat yang menyesali langkah salah dalam berberapa putaran jam, dan kemarin pula aku tangisi itu. Semua adalah hasil dari penciptaan Prof.Dr. Ego, Kini dengan segenap hati aku bertahan untuk melawan dan merasakan indahnya hidup tanpa terjaga di banyak malam hanya untuk berfikir kenapa aku bisa melakukan kesalahan itu, itu dan itu berulang-ulang.
Malam ini, ketika udara dingin angin malam yang baru saja di dera hujan dan sekarang masih menyisakan gerimis, aku berjalan di bawah orange lampu-lampu jalanan kota, Mempertanyakan “apakah benar nasip itu tertulis?” dan “apakah waktu itu tidak bisa di putar?”, banyak kenangan dalam otakku,kadang di saat yang tidak di ingikan dia hadir menyeruak menghantarkan fulse demi fulse sepi yang teriring dalam tarian gelap malam bersama alunan nyanyian jangkrik. Jelas sampai kapanpun aku bertanya pertanyaan itu tetap menjadi pertanyaan, tak akan pernah terjawab olehku. Kembali derap kaki ini mengiringku ke tempat pertama aku kecupkan bibirku pada keningmu di tengah riuhnya kota, di depan meja-meja cafe, yang dengan degub keras jantung namun bergaya sebagai sang ahli aku menciumu, sungguh suatu malam yang indah meski bintang yang dulu telah lupa namun aku masih mengingat jelas saat itu.
Aku harus pergi, aku sudah muak dengan semua ini, semua kenangan ini, semua sepi ini aku berlari mengikuti suatu cahaya yang membawaku singgah pada suatu hati, satu hati yang kemarin pernah aku singgahi namun aku tinggalkan ketika aku mencoba kembali mencari sebatas mana kemampuanku, ketika egoku dengan gagahnya menginjak mukaku, namun hari ini aku kembali singgah padanya, aku berhenti menyadari ketika waktu mengajarkanku bahwa yang aku perlu ada di depanku,dan dengan ini ku nyatakan pada sepi, pada kenangan manis berduri itu!, “Selamat tinggal, ku harap ini pertemuan terakhir kita!” .
“Teriring salam hangat untukmu hatiku, dari sudut tikungan kota ini”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar